Posted by: Kamal Mahmudi on: September 8, 2010
Bosan. Padahal baru dua hari ini tidak pernah keluar dari rumah, bahkan urusan makan pun ditangani jasa delivery. Bukannya anti sosial, tapi kerjaan masih menumpuk sementara deadline dan konsekuensi keterlambatan terus membayangi.
Masih ada empat jam sebelum batas pengumpulan, masih ada cukup waktu untuk santai sebelum menerima kerjaan berikutnya. Kalau dipikir-pikir, badan ini sudah terbiasa dibawa banyak bergerak, cuaca di luar pun tampak bersahabat, tidak panas juga tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Jalan kaki sepuluh kilo? Mengapa tidak? Lumayan mengurangi emisi karbon, uang transport juga tidak jadi keluar, justru badan sehat bisa didapat.
Jadi teringat dulu waktu kuliah di daerah seberang. Namanya juga masih kuliah, semua serba pas-pasan. Belum ada kendaraan pribadi. Tempat tinggal juga milih-milih yang cocok dengan uang saku. Walhasil dapat tempat tinggal jauh dari kampus tapi selisihnya biar sudah dipakai transportasi masih bisa dipakai buat jalan-jalan ketempat wisata. Ketergantungan pada waktu dan angkutan umum bukan masalah.
Tapi semua hal pasti ada plus minus, siapa yang sangka satu kota angkutan umumnya menjalani proses peremajaan di satu hari secara bersamaan. Sialnya lagi, di hari yang sama ada kuliah dengan dosen yang sangat menjunjung tinggi disiplin. Jangankan bolos, masuk kelas setelah dosen sama saja dengan minta dikeluarin dari kelas. Dari pada bermasalah, waktu itu kuputuskan untuk jalan kaki dari kos ke kampus. Mungkin ada sekitar lima belas kilo, tapi karena jalan sendiri tanpa hiburan, hampir satu jam sudah sampai juga di kampus. Untungnya sore hari proses peremajaan tersebut sudah selesai, jadi tidak perlu pulang pergi dengan cara yang sama.
Belajar dari pengalaman tersebut, perjalanan jauh sendirian harus disertai hiburan. Bisa radio, bisa juga pemutar musik. Kali ini playlist sudah diatur di gadget komunikasi yang jadi satu dengan pemutar musik dan kamera kalau-kalau ada momen menarik yang dapat disimpan. Teknologi memang berkembang cepat, benda seperti ini bukan lagi barang yang istimewa. Coba ambil acak sepuluh anak SD di kota ini, paling tidak salah satu dari mereka punya gadget yang sama atau lebih canggih dari ini.
Jari telunjuk dan jempolku memasukkan set earpiece ke dalam telinga setelah secara reflek jari tengah meraba lubang telinga seolah ingin memastikan tidak ada benda asing di sana. Tanpa mengurangi lebih banyak waktu lagi, kuambil kumpulan kunci yang terikat pada USB flash disk yang juga berperan sebagai gantungan kunci. Kulihat kiri-kanan, atas-bawah memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal atau hal-hal yang dapat menyebabkan kebakaran atau hal buruk lainnya sebelum akhirnya kukunci pintu kamar satu putaran dan pintu depan rumah dua putaran. Ted yang menyimpan kunci cadangan sempat percaya kalau aku masang kamera tersembunyi pas aku tahu dia datang ke rumah setelah aku dapati putaran kunci yang berubah. Kebanyakan manusia memang tidak memperhatikan detail lingkungan sekitarnya. Aku berani bertaruh hanya segelintir orang yang biasa menyebrangi jalan ini yang tahu berapa jumlah garis putih zebra cross tersebut.
Toko buku di depan selalu menarik perhatianku setiap kali lewat jalan ini. Mungkin karena atapnya yang menyerupai bentuk buku terbuka yang menghadap ke bawah seolah seseorang yang sedang membaca buku tersebut berhenti sejenak meninggalkan buku tersebut di atas meja besar dalam keadaan terbalik agar tidak perlu mencari halaman yang sedang dibacanya. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan ini memang didesain unik. Walau demikian keunikan tiap bangunan terkesan tidak membuat bangunan tersebut ataupun bangunan sekitarnya tampak norak. Berbeda kepemilikan bukan berarti mengabaikan faktor keserasian. Hampir setiap teman yang baru datang untuk pertama kalinya ke kota ini aku ajak main ke jalan ini. Selain karena foto-foto sudah jadi kebiasaan hampir setiap orang, daerah ini juga layak jadi tempat tongkrongan yang seru.
Sampai juga di simpang empat stasiun, tinggal satu blok lagi sampai ke kantor. Kulihat jam di tangan kiriku, sebentar lagi jam sebelas. Jarum jam dan menit hampir menunjuk ke arah yang sama. Aku jadi ingat dulu serangkaian acara ulang tahun kantor, salah satu acaranya semacam The Amazing Race. Persimpangan ini jadi salah satu pos dimana setiap peserta yang lewat pos ini awalnya kebingungan karena dimarahi panitia yang bertugas di pos ini. “Dari mana saja sih kalian? Harusnya kalian sudah datang sejak jam 8.43 dari arah sana”, katanya sambil menunjuk ke arah yang ternyata kebanyakan dari kami memang datang dari arah tersebut. “Ga ada yang bawa makanan pula, capek tahu nungguin kalian, kalau ada gorengan kan saya ga perlu marah-marah begini. Kalian cari sendiri saja petunjuknya sampai dapat!”, katanya dengan muka setengah kesal sambil melanjutkan permainan di handphone-nya.
Begitu pergi menjauh dari penjaga pos, timku langsung menggerutu tak karuan. Kami memang sempat santai-santai gara-gara ada shooting acara TV di mall yang jadi pos sebelumnya sayang untuk dilewatin begitu saja. Tapi jam 8.43 memang keterlaluan, sampai di pos sebelumnya saja sekitar jam segitu, bagaimana mungkin pada waktu yang sama tiba di sini. Setelah berkeliling tanpa arah, kami baru menyadari kalau pada jam 8.43 kedua jarum jam menunjuk ke arah yang sama. Setelah kami telusuri dari arah yang dikatakan panitia adalah arah seharusnya kami datang, kami dapatin beberapa panitia lain yang sedang bermain kartu di depan penjual gorengan.
Bunyi melodi dari lagu yang baru terputar di gadget-ku langsung menyadarkanku dari ingatan di awal-awal masa kerjaku. Redesign Me punya VersaEmerge ini cukup sering kuputar akhir-akhir ini sejak pesta pernikahan Vivi sebulan yang lalu. Waktu itu Joni iseng menulis request nyanyi ke band yang ternyata tertulis namaku. Suasana saat itu cocok banget untuk nyanyi lagu bahagia. Tetapi, begitu kuinjakkan kaki ke atas panggung, sesosok wajah yang kukenal terlihat di baris kedua kursi tamu, Rina. Wajah itu sama kagetnya ketika tatapan kami bertemu. Hubungan kami baru saja putus melalui pesan singkat Rina yang tanpa penjelasan. Sudah berapa kali kucoba menghubungi dia, tidak ada jawaban seolah Rina sudah menghapus diriku dari muka bumi ini. Lagu ini kemudian tiba-tiba muncul di pikiranku. Sangat cocok untuk menggambarkan perasaanku saat itu. Untung pihak band tahu lagu ini, setelah berbasa-basi singkat, tak lupa pula kukatakan kalau lagu ini juga kutujukan untuk salah satu tamu di sini dan langsung saja kunyanyikan nih lagu dengan penuh penjiwaan. Hampir sepanjang setengah lagu ini kuarahkan pandanganku ke Rina seolah ingin memastikan dia tahu apa yang kurasakan, dan di bagian refrain terakhir “And to this day I wonder is it you or me who should feel guilty” – [Redesign Me - VersaEmerge] tanpa sadar jariku menunjuk ke arahnya. Gara-gara aksi itu, kisah hubungan kami pun jadi bahan cerita teman-teman. Rasa puas dan sesal berkecamuk di pikiran sampai kuputuskan untuk melupakan semuanya.
“Anjing!”, teriakku. “Punya mata dipakai dong mas,” lanjutku ke arah sepeda motor yang bergerak menjauh yang nyaris saja menabrakku ketika mau menyebrang jalan. Pengguna jalan suka sekali kebut-kebutan di jalan, entah apa yang dikejarnya sampai di tikungan pun tidak mau mengurangi kecepatan. Mobil dari arah depan juga mengurangi kecepatannya, seolah sadar tidak ada gunanya kebut-kebutan di jalan raya. Orang-orang di sekitar pun berhenti dan terpaku melihat ke arahku, beberapa dari mereka ada yang menutup mulutnya, ada juga yang menutup matanya. “Ya, perkenalkan nama saya Ahmad Rozik. Keberatan dengan teriakanku? Biasa aja dong,” batinku. Baru saja mau kugerakkan kepalaku ke arah seberang jalan, kurasakan sakit di pinggang seperti remuk oleh sebuah hantaman yang luar biasa. Semuanya terasa masuk akal ketika tubuh ini terasa ringan dan melayang sebelum akhirnya jatuh dan kudapati diriku tak berdaya mencium aspal jalanan. Aku baru saja berada di tengah kejar-kejaran antara sepeda motor dengan mobil. Sepeda motor hampir saja menabrakku tapi hal tersebut sama sekali bukanlah sebuah keberuntungan karena mobil yang mengejarnya tidak dapat menghindari badan ini setelah memberi peringatan klakson berkali-kali.
Masih terdengar olehku suara orang-orang mendekat mengerumuni jiwaku yang masih terikat oleh jasad yang setengah rusak. Masih bisa kurasakan aliran darah di beberapa bagian kulitku seperti masih kurasakan beberapa orang memegang tubuhku. Ada yang hendak membalikkannya berharap melancarkan sirkulasi pernafasanku yang mulai pelan perlahan. Ada yang mencoba menahan pendarahan yang muncul. Ada juga yang meraba saku celana berharap mendapatkan barang berharga yang dapat diperolehnya. Set earpiece terlepas dari telingaku. “Punya telinga jangan ditutup terus dong mas,” sebuah kalimat berbisik kutangkap sebelum akhirnya kesadaranku hilang. Mungkin juga itu adalah kalimat terakhir yang melintas dipikiranku.