The Interview – A Fire Inside

People could not believe what I’d become.” [Viva la Vida - Coldplay]

Selesai sudah menyampaikan dan menjelaskan pribadi dan kehidupan sekitar pribadi ini di wawancara perekrutan anggota baru PSDA HMIF. Sayang beberapa point tidak tersampaikan dengan baik, beberapa karena lupa, beberapa karena ada hal-hal yang tidak pantas untuk disampaikan.

Pertanyaan terberat adalah saat memilih untuk merekomendasikan 3 dari beberapa anggota biasa HMIF 2007 yang mendaftar di PSDA. Walau telah mempersiapkan diri untuk hal ini dengan bertanya kepada teman yang telah diwawancara di divisi lain, tetap saja ini adalah bagian terberat. Pertama karena aku tidak mengetahui semua orang yang mendaftar di divisi ini, kedua karena aku sebelumnya mempersiapkan untuk 5 orang dan ternyata 3 orang. Untuk hal ini sepertinya aku harus meminta maaf kepada teman-teman yang bersangkutan karena memilih 2 orang pertama dengan reflek mencari teman yang mudah diberikan alasan untuk direkomendasikan dan tentu saja orang yang ketiga adalah aku sendiri – sebelumnya memang berencana menetapkan diri di akhir rekomendasi – namun hal ini bukan karena egois semata melainkan karena sebagai “motivator” – di berbagai kegiatan non formal – aku selalu menegaskan “jika kamu sendiri tidak percaya kalau kamu pantas meraihnya, bagaimana mungkin kami harus percaya kamu pantas” dan kalimat itu pun kujunjung tinggi di kehidupanku sendiri.

Namun sebelumnya, hal yang pertama kali dilakukan jelas perkenalan diri dengan informasi-informasi penting lainnya disusul kelebihan dan kekurangan diri yang tentu saja tidak mudah. Bukan tidak mudah karena tidak bisa atau malu mengakui kelemahan pribadi, tetapi tidak mudah menyebutkan semua kelemahan begitu saja di suatu waktu. Namun bila dipikirkan dan didaftar dalam waktu yang panjang pasti tidak sedikit yang dapat disebutkan. Sebagai konsekuensinya tentu tidak pantas menyebukan kelebihan jauh lebih banyak.

Selanjutnya adalah “pertanggungjawaban” atas apa-apa yang telah ditulis di kuisioner sebelumnya. Hobi “membandingkan” yang dianggap aneh – jelas aku tidak mau menulis baca buku, jalan-jalan, mendengar musik sampai nonton film yang terlalu seragam dengan teman-teman – menjadi sasaran pertama. Kontribusi diri bila di divisi HMIF – untuk yang ini memang aku tidak memiliki ide diisi dengan apa – membenarkan panitia untuk melakukan auto sign. Selain itu, ketika ditanya film favorit – untuk kasus ini kesalahan murni karena lupa dan tidak terpikirkan – aku menjawab Lord of The Ring, padahal Smallvile jelas yang terbaik bagiku.

Jika bertanya tentang kepekaan angkatan, HMIF, ataupun massa kampus tentang realita bangsa tentu saja kujawab masih kurang. Meski tidak sedikit yang terjun langsung mengabdi kepada masyarakat atau turut mencari dan merealisasi solusi terbaik bagi permasalahan bangsa, tetap saja masih banyak yang tidak terlalu peduli dan dengan mudah mengeluarkan banyak uangnya demi kepentingan pribadi, hidup dan kuliah hanya bersenang-senang dan menggapai cita-cita pribadi. Kasus sama berlaku jika pertanyaannya tentang kekompakan angkatan. Selama masih ada yang belum bisa istirahat, shalat dan makan bersama anggota angkatan dengan nyaman, selama masih ada yang belum terbiasa berargumen ketika forum angkatan, selama masih ada yang sungkan untuk menegur temannya ketika melakukan sesuatu yang mengganggu dirinya, selama itu pula angkatan ini dapat dikatakan belum solid. Walaupun begitu aku tetap memberikan nilai tinggi untuk kekompakan angkatan ini karena kita mampu melewati berbagai tugas dan kesulitan bersama-sama.

Pertanyaan terakhir adalah pertanyaan termudah, karena sudah terpikirkan sebelumnya, pertanyaannya tentu tentang pengurutan minat di divisi/biro HMIF.

Sebelum sesi wawancara ini ditutup, pengurus menyampaikan kalau aku terlalu merendah dan terkesan kurang percaya akan kemampuan diri, juga kalau aku sebenarnya tidak buruk dalam berkomunikasi seperti yang kusampaikan pada jawaban sebelumnya. Namun kalau boleh dikomentari, sebenarnya bukan merendah atau kurang percaya akan kemampuan diri, tetapi merasa teman-teman di angkatan banyak yang lebih baik di sisi organisasi dan kepanitiaan. Selain itu memang kemampuan komunikasi tidak buruk, tetapi ketidaksukaan terhadap birokrasi adalah alasan terbesar dari jawaban sebelumnya.

Explore posts in the same categories: Forget

2 Comments on “The Interview – A Fire Inside”

  1. gInaNjaR FM Says:

    Interview…., uummmmm………[thinkin']

    Sayang, aku kehilangan moment itu. go HMIF go..!!

  2. Ivan Says:

    Wawancara yang berkesan loh…
    Unik banget…
    Setengah jam setelah wawancara saya masih senyum2 gara2 jawaban Kamal (dibilang kaya orang gila sama PSDA yang lain.. :P )
    Semoga dengan Kamal di divkel Kamal bisa membuat satu himpunan tersenyum… :)


Comment: