Freedom – Rage Against The Machine

Setiap penduduk di belahan bumi Indonesia hari ini merayakan kemerdekaan negeri ini yang ke-63. Masing-masing wilayah tidak mau kalah dalam menunjukkan semangat kemeriahannya. Komplek perumahan dan jalanan ramai dipenuhi berbagai atribut kemerdekaan. Tak ketinggalan rumah-rumah menempatkan bendera merah putih di bagian terdepan. Berbagai acara diadakan mulai dari kontes dangdut lokal sampai pidato kebangsaan. Lomba-lomba turut memeriahkan tujuh belasan dari yang biasa seperti panjat pinang sampai yang luar biasa seperti menarik – dalam arti yang sebenarnya – bis di Terminal Tidar Magelang.

Namun, semakin sering negeri ini merayakan kemerdekaannya, semakin lupa pula negeri ini dengan arti kemerdekaan yang ingin disampaikan. Penduduk negeri ini seolah hanya menghadiri acara ulang tahun seseorang, mengucapkan selamat, mengikuti acara yang dipersiapkan orang yang berulang tahun, lalu pergi sambil berharap tahun depan acaranya lebih menarik.

Di mana nilai-nilai luhur yang diwariskan para pahlawan bangsa ini? Di mana semangat kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan bangsa ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut harusnya menjadi motivasi bangsa untuk tidak menjadi lebih baik dari sebelumnya tetapi menjadi yang terbaik di antara bangsa-bangsa. Bukan keinginan untuk menjadi pahlawan, berebut untuk dibenarkan sebagai seorang pahlawan nasional tempo dulu. Bukan pula semangat kemeriahan tanpa semangat kemerdekaan.

And do you think you deserve your freedom? No I don’t think you do.” [Soldier's Poem - Muse]

Selama penduduk bangsa ini tidak meneruskan sikap pengorbanan untuk bangsanya sendiri. Selama penduduk bangsa ini tidak merasa bersalah merusak fasilitas umum. Selama penduduk bangsa ini tidak merasa bersalah mengonsumsi dana umum. Selama penduduk bangsa ini tidak merasa risih menggunakan pidato kenegaraan sebagai kesempatan kampanye, seperti pidato presiden jumat lalu yang hanya membahas hal-hal positif di masa pemerintahannya dan terkesan sangat defensif dan ditujukan menepis tudingan rival-rivalnya. Selama penduduk bangsa ini tidak malu tidak memenuhi tugasnya sebagai abdi negeri demi kepentingan pribadi, seperti saat sidang paripurna DPRD Kabupaten Bandung dengan agenda mendegarkan pidato kenegaraan Presiden RI dalam rangka HUT ke-63 RI yang hanya dihadiri 13 dari 45 anggota DPRD dengan alasan sibuk mengurus pencalonan legislatif Pemilu 2009 padahal di pidato tersebut presiden berencana menaikkan gaji pegawai sebesar 15%, apakah caleg seperti ini yang dibutuhkan bangsa? Selama penduduk bangsa ini tidak mengetahui dengan benar tabiat calon yang dipilihnya menjadi pemimpin dan terdiam menjadi korban media yang mengarang cerita-cerita indah keberhasilan sang calon. Selama penduduk bangsa ini suka mencari kesalahan-kesalahan bangsanya sendiri tanpa berusaha mencari dan mengaplikasikan solusinya. Selama itu pula penduduk bangsa ini tidak pantas mendapatkan kemerdekaan yang diberikan melalui tiap tetes darah, keringat, dan air mata pahlawan-pahlawan bangsa.

Explore posts in the same categories: Fight

Comment: