My Sacrifice – Creed (Part 1)

Setiap orang tentu memiliki kelebihan yang diikuti dengan kekurangan yang berbeda-beda bila dibandingkan dengan sesamanya. Perlu kerendahan hati untuk tidak memamerkan kelebihan diri, sebaliknya, perlu keberanian untuk mengakui kelemahan.

Hari ini (mungkin 1 hari sebelum tulisan ini aku post), aku merasakan kelelahan yang mendalam baik secara raga maupun jiwa. Manusia mana yang tidak membutuhkan kesenangan? Bagiku, malam ini haruslah dihabiskan dengan kesenangan, melakukan apapun yang ingin kulakukan. Namun, kelelahan yang sangat ini telah membawaku pada sifat egois yang berlebihan. Secara tidak langsung, aku telah membuat orang lain tidak menikmati kesenangannya. Ribuan alasan kulontarkan hanya karena malas melakukan sesuatu yang secara langsung tidak penting bagiku. Sekali lagi, dalam pikiranku, malam ini hanya ada aktivitas yang benar-benar dapat melepas lelah fisik dan pikiran.

Siapa pun berhak untuk memberikan pertolongan atau tidak kepada orang lain, begitu juga aku berhak untuk tidak membantu orang malam ini.

You and I must fight for our rights. You and I must fight to survive.” [Knights of Cydonia - Muse]

Hak inilah yang kuperjuangkan untuk bertahan dalam kesenangan yang semu. Aku bahkan dapat melontarkan alasan-alasan yang dibenarkan siapa pun yang mendengarnya bahkan bagi peminta pertolongan. Tapi hati ini terasa sepi. Kulepaskan lelah lahirku malam ini dengan batin yang tetap tergantung di keramaian langit malam yang tak terlihat oleh mata minus-ku.

Aku dengan salah satu motto-ku “beri orang lain apa yang ingin kamu dapatkan dari orang lain” merasa malu malam ini. Sementara itu, hati ini mulai percaya bahwa jiwa ini lebih mudah meminta pengorbanan dari pada memberi pengorbanan. Mudah-mudahan tulisan ini akan mengingatkanku akan arti pengorbanan, pengorbanan di saat mudah dan pengorbanan di saat susah tentunya.

Explore posts in the same categories: Forget

Comment: